Teror CSD: Apa Kesamaan Ekstremis Islam dan Ekstremkanan?
31 Juli 2026
Serangan di Parade Berlin Pride atau Christopher Street Day (CSD) di Berlin pada Sabtu (25/07) telah mengguncang Jerman. Mengapa seorang ekstremis Islamis yang telah masuk catatan polisi dan dianggap ancaman bagi keselamatan publik mampu membunuh satu orang dan melukai 31 lainnya di CSD? Apakah Jerman tidak cukup serius menanggapi ancaman yang ditimbulkan oleh islamis ekstrem?
Dalam dunia politik di Jerman, seruan untuk merepresi kelompok ini semakin meningkat: Pengetatan undang-undang, pencabutan kewarganegaraan Jerman, dan pemasangan alat pelacak elektronik di pergelangan kaki untuk tersangka teroris.
Masih banyak hal yang belum diketahui tentang tersangka penyerang. Abdul B. yang berusia 21 tahun ini bukan orang baru di catatan pihak berwenang, ia telah dua kali dihukum. Ketika serangan terjadi, keputusan mengenai potensi hukuman penjara yang akan dijatuhkan kepadanya masih tertunda.
Jakob Guhl, Direktur Kebijakan dan Penelitian di Institute for Strategic Dialogue, lembaga pemikir yang berbasis di London, Inggris, mengatakan serangan yang menargetkan komunitas LGBTQ bukan hal yang tidak biasa.
"Ideologi tersebut selalu sangat homofobia dan memusuhi komunitas LGBTQ+. Ketika yang disebut kekhalifahan masih ada, 'Negara Islam' mengeksekusi orang-orang yang dituduh homoseksual," kata Guhl yang telah meneliti ekstremisme Islam selama bertahun-tahun.
Lebih lanjut ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi serangan berulang kali terhadap acara Pride, di London, Oslo, Zürich, dan Wina.
Paduan berbahaya: Islamis ekstrem dan ekstremkanan
Jakob Guhl telah mengamati interaksi yang luar biasa selama bertahun-tahun: gerakan ekstremis Islam tidak ada secara terisolasi, tetapi terkait erat dengan gerakan ekstremis sayap kanan. Kedua ideologi tersebut saling memperkuat dan saling menguntungkan.
"Keduanya memiliki gagasan bahwa hidup berdampingan secara damai antara muslim dan nonmuslim adalah hal mustahil," jelas Jakob Guhl dalam wawancara dengan DW, "tetapi justru terdapat kontradiksi mendasar antara nilai-nilai mereka dan oleh karena itu konflik tidak dapat dihindari."
Ekstremis Islam menyebarkan klaim bahwa Jerman sedang berperang melawan Islam. Mereka mengutip pengalaman diskriminasi dan pengucilan yang dihadapi oleh pemuda muslim di Jerman, serta liputan media negatif tentang Islam, sebagai buktinya.
"Dari perspektif ekstremis Islam, ekstremis sayap kanan mewakili warga Jerman secara umum. Begitu juda sebaliknya, ekstremis kanan mengklaim bahwa ekstremis Islam pada dasarnya mewakili umat Islam. Ini adalah upaya untuk membagi masyarakat menjadi dua kubu."
Kedua ideologi tersebut punya kesamaan dalam berbagai sikap: penghinaan terhadap masyarakat liberal Barat, kecenderungan mempercayai teori konspirasi, ketidakpercayaan terhadap lembaga negara, sikap antifeminis, dan kebencian terhadap komunitas LGBTQ.
"Alasan ketidaksukaan mereka terhadap LGBTQ mungkin sedikit berbeda. Terkadang berasal dari perspektif ideologis-religius karena ini dianggap bertentangan dengan perintah Tuhan,” jelas Jakob Guhl. "Di sisi sayap kanan ekstrem, biasanya lebih ke perspektif biologis-rasial, bahwa hal itu menurunkan angka kelahiran dan melemahkan kesehatan bangsa."
Di Jerman, otoritas keamanan telah bertahun-tahun mengamati terbentuknya generasi baru ekstremis sayap kanan muda yang cenderung melakukan kekerasan dan memobilisasi diri melawan parade Christopher Street Day.
Dalam studi tahun 2018 yang berjudul Hate-Love: Anti-Muslim Extremism, Radical Islam, and the Spiral of Radicalization, Guhl dan penulis lainnya menggambarkan persamaan kepentingan kedua ideologi tersebut: perpecahan masyarakat. Mereka berpendapat bahwa ini adalah lahan subur bagi ideologi mereka.
Bahan bakar ekstremisme: Ujaran kebencian di medsos
Dalam memerangi penyebaran ideologi-ideologi ini, penulis studi tersebut merekomendasikan pendekatan yang lebih tegas terhadap ujaran kebencian di media sosial. Mereka juga menyerukan kepada media tradisional untuk mengambil tindakan: Menyalahkan satu pihak hanya akan semakin memicu spiral radikalisasi.
Jakob Guhl merekomendasikan serangkaian langkah untuk memerangi ekstremisme Islam, termasuk langkah-langkah yang lebih lunak seperti program deradikalisasi dan inisiatif pencegahan. Tetapi ia juga menekankan perlunya langkah tegas.
"Kita membutuhkan represi terhadap individu-individu berbahaya, artinya orang-orang yang menganut ideologi ekstrem dan cenderung melakukan kekerasan. Kita membutuhkan dinas intelijen," ujarnya.
Namun, ia mengkritik diskusi tentang asal-usul pelaku dan potensi deportasi, terutama karena tersangka penyerang Christopher Street Day adalah warga negara Jerman kelahiran Berlin. "Saya menganggap pertanyaan tentang kewarganegaraan pelaku bermasalah: Ada risiko nyata menciptakan masyarakat dua kelas berdasarkan afiliasi yang berbeda, dan itu kontraproduktif terhadap dinamika radikalisasi."
Bagi Guhl, kedua ideologi ini berkembang pesat karena perpecahan masyarakat. Oleh karena itu, semakin penting untuk menggali dan menyoroti kesamaan antara komunitas muslim dan nonmuslim. "Kita punya lebih banyak kesamaan dibandingkan perbedaan yang memisahkan."
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Arti Ekawati
Editor: Rizki Nugraha