Kenapa Konten “Cringe” Bikin Ketagihan bak Makan Junk Food?
5 Agustus 2026
Pernahkah kita disergap rasa risih ketika melihat luapan emosi manusia lain, di mana orang menangis, melamar di pesta pernikahan, atau sekadar bernyanyi karaoke meski dengan suara sumbang.
Seseorang merasa cringe atau risih saat melihat sesuatu yang aneh, memalukan, atau hal-hal yang dibuat tanpa kesadaran hingga membuat kita merasa tidak nyaman.
Namun, manusia sebaliknya cenderung tertarik pada hal-hal memalukan karena mungkin sendirinya pernah mengalami situasi serupa atau mengenal mereka yang pernah mempermalukan diri sendiri. Pengalaman semacam itu, misalnya, bisa memunculkan rasa empati.
Dalam psikologi, cringe juga dikenal sebagai vicarious embarrassment atau rasa malu sekunder. Pasalnya, pengalaman mengajarkan seseorang untuk bisa merasakan apa yang dialami orang lain. Terkadang kita turut menikmati saat melihat orang lain menderita dalam situasi sosial yang aneh atau kaku.
Cringe punya komunitas daring: Ada kompilasi cringe, saluran reaksi terhadap cringe, cringe komedi, dan format lain yang menampilkan momen-momen paling memalukan orang lain. Meski acap memicu komentar negatif, konten-konten ini dibanjiri penonton.
Stefan Hofmann, seorang psikolog klinis dengan spesialisasi gangguan kecemasan sosial di Universitas Marburg, Jerman, mengatakan video cringe sama candunya dengan makanan cepat saji. "Jika Anda terbiasa makan junk food, Anda ingin makan lebih banyak atau bahkan yang lebih ekstrem,” kata Hofmann.
Mengapa kita tidak bisa beralih dari momen-momen "cringe"?
Rasa malu bersifat subjektif. Misalnya, nilai buruk tidak membuat malu seseorang yang tidak peduli dengan sekolah, tetapi bisa memicu rasa malu pada seseorang yang menganggap kesuksesan akademis sebagai inti dari diri dan identitasnya.
"Jika Anda melihat orang asing bertingkah laku tidak pantas di depan umum, Anda mungkin akan marah,” kata Frieder Paulus, seorang psikolog dan ahli saraf di Universitas Lübeck, Jerman.
"Tetapi jika anak Anda melakukan hal yang sama, Anda mungkin merasa malu, tidak hanya untuk anak itu, tetapi juga untuk diri Anda sendiri,” kata Paulus, "Karena (Anda merasa) perilaku anak itu mencerminkan diri Anda.”
Rasa malu termasuk dalam kelas emosi: barometer emosional. Barometer emosional mencakup rasa malu, kebanggaan, dan rasa bersalah. Emosi-emosi ini menandakan bahwa norma sosial telah dilanggar.
Agar seseorang merasakan malu, ia harus menyadari norma-norma sosial, konteks situasi, dan menyadari bahwa ada orang lain yang mengamatinya.
Reaksi kita terhadap situasi yang memalukan nampak saat pemindaian otak. "Kami melihat kelainan… daerah aktivasi (menyala) karena ada sesuatu yang tidak beres,” kata Paulus.
Mengapa reaksi rasa malu itu berguna
Matthew Feinberg, seorang psikolog sosial di Universitas Toronto di Kanada, menemukan bahwa orang-orang memahami ekspresi rasa malu sebagai sinyal perilaku prososial.
Perilaku prososial tersebut menciptakan rasa kepercayaan pada para pengamatnya. Mereka melihat bahwa orang yang merasa malu menyadari telah melakukan sesuatu yang salah atau aneh secara sosial.
Pesannya adalah, "Saya melakukan sesuatu yang konyol dan saya ingin menunjukkan bahwa tindakan tidak disengaja dan saya adalah anggota masyarakat yang baik,” kata Feinberg.
Mengenai apakah logika yang sama berlaku bagi orang yang mengamati kesalahan orang lain, Feinberg mengatakan menyaksikan rasa malu, "Memicu respons alami. Pikiran saya memberi tahu untuk merespons orang tersebut dengan simpati.”
Feinberg mengatakan bahwa rasa malu yang dirasakan secara tidak langsung bahkan mungkin menjadi sinyal kepercayaan yang lebih kuat daripada rasa malu yang dialami sendiri, "Mungkin … karena Anda mengalaminya meskipun Anda tidak melakukan apa-apa. Ini adalah pertanyaan penelitian yang menarik yang sejauh yang saya ketahui, belum pernah dieksplorasi.”
Dikucilkan: harga dari rasa malu yang berlebihan
Rasa malu juga merupakan ekspresi dari rasa takut dikucilkan dari suatu kelompok. Bagi spesies sosial seperti manusia dan hewan lainnya, hal itu bisa berbahaya.
"Rasa takut dikucilkan dan takut mendapat evaluasi negatif oleh orang lain, menyakitkan secara psikologis maupun fisik,” kata Hofmann. "Tentu saja rasa sakitnya tidak sama (dengan rasa sakit fisik), tapi tetap saja menyakitkan.”
Dalam praktik klinis, Hofmann telah menguji apa yang disebut "paparan kejadian sosial yang memalukan,” di mana pasien sengaja melakukan sesuatu yang memalukan untuk mencoba membantah rasa takut atau cemas mereka.
Namun, cringe bukanlah sesuatu yang bisa kita hentikan begitu saja. Para peneliti menyarankan bahwa emosi ini bersifat tidak disengaja dan berkembang sejak usia dini. Hal ini juga berlaku untuk emosi terkait seperti empati dan kepercayaan, serta schadenfreude (rasa senang dari kesulitan orang lain). Tidak semua adiksi akan konten cringe dapat dijelaskan sebagai ekspresi emosi yang positif.
Hofmann mengatakan bahwa sebagian orang memang merasakan kesenangan saat melihat orang lain berada dalam situasi yang memalukan. Perbedaan antara empati dan schadenfreude ini juga penting. Jika daya tarik terhadap konten yang memalukan hanya berkaitan dengan empati, lebih sering menontonnya justru seiring berjalannya waktu akan membuat kita merasa lebih buruk.
Meskipun begitu, banyak yang tetap menonton video-video cringe di internet.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Rizki Nugraha