oleh A Eddy Adriansyah Ada sesuatu yang khusus setelah mendengar lagu-lagu Bilal Indrajaya. Sekilas, seperti sedang membuka kembali album musik Indonesia dari dekade 1980-an atau 1990-an. Melodinya romantis, aransemen musiknya megah, dan warna vokalnya membawa semacam nostalgia yang sulit dijelaskan. Tetapi ketika liriknya benar-benar didengarkan, segera tersadar, ini bukan musik tentang masa lalu. Ini musik tentang kegelisahan manusia hari ini. Tentang kehilangan. Tentang hubungan yang tiba-tiba berjarak. Tentang masa lalu yang belum selesai. Tentang seseorang yang pergi, tetapi entah mengapa tetap tinggal di kepala. Dan mungkin di situlah kekuatan Bilal Indrajaya. Penyanyi, penulis lagu, dan musisi kelahiran Jakarta, 19 Desember 1995, ini berhasil melakukan sesuatu yang tidak mudah,”menghidupkan kembali estetika musik pop klasik tanpa terdengar seperti sedang meniru masa lalu.” *** Bilal tumbuh di Tangerang Selatan dan memulai perja...
(foto dari Wikipedia) (seperti dituturkan Dave Lombardo, ex-drummer Slayer pada Metal Hammer Magz) Pertama kali saya bertemu Jeff Hanneman pada tahun 1981. Saat itu, saya dan Kerry King (gitaris Slayer), berencana untuk membuat band. Kami bertiga berlatih di rumah orangtua saya. Kerry yang mengajak Jeff. Kesan pertama, Jeff itu seperti anak surfer yang pendiam. Rambutnya panjang banget, tinggal di Long Beach, dan biasanya orang-orang situ di rumahnya punya papan selancar. Saya pikir, anak ini keren dan cocok jadi anak band. Jeff berpengaruh banget ama Sound Slayer. Saya dan Kerry sebelumnya menyukai Judas Priest, Iron Maiden, Rainbow, dan Deep Purple. Sampai suatu hari, Jeff datang latihan dengan rambut yang dicukur bersih. Saya bertanya, “wah apa-apa lu, Jeff ?” Jeff bilang, “Gw sekarang pindah ke Punk, heavy metal sudah berakhir.” Jeff kemudian bawa berbagai vinyl dan kaset, dari kelompok-kelompok seperti Black Flag, TSOL, Minor Threat, Dead Kennedys dan Circle Jerks. ...