Memaparkan catatan dengan label Susastera. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Susastera. Papar semua catatan

September 08, 2010

Do You Love Me?




Do You Love Me?

A lover asked his beloved,
Do you love yourself more
than you love me?


The beloved replied,
I have died to myself
and I live for you.


I’ve disappeared from myself
and my attributes.
I am present only for you.


I have forgotten all my learning,
but from knowing you
I have become a scholar.


I have lost all my strength,
but from your power
I am able.


If I love myself
I love you.
If I love you
I love myself.

____

Jalaluddin Rumi


You And I




You and I

Happy is the moment, when we sit together,
With two forms, two faces, yet one soul,
you and I.

The flowers will bloom forever,
The birds will sing their eternal song,
The moment we enter the garden,
you and I.

The stars of heaven will come out to watch us,
And we will show them
the light of a full moon –
you and I.

No more thought of "you" and "I."
Just the bliss of union –
Joyous, alive, free of care, you and I.

All the bright-winged birds of heaven
Will swoop down to drink of our sweet water –
The tears of our laughter, you and I.

What a miracle of fate, us sitting here.
Even at the opposite ends of the earth
We would still be together, you and I.

We have one form in this world,
another in the next.

To us belongs an eternal heaven,
the endless delight of you and I.

____

Jalaluddin Rumi





Jun 03, 2010

Tebaran Rona di Layar Jiwa





Sejalur cahaya
menyinar putih,
sekilas mencecah
layar polos terpilih

lalukanlah ia
menerjahi kanta,
terbias alami
sedetik jadi

merah kirmizi
jingga kesumba
kuning gading
biru lazuardi
hijau zaituni

berbeza rona
rapi terpilah, tetap
menawan tatap
mata, mengukir senyum
sukma.

kesederhanaannya indah
keindahan-Nya
sempurna dalam sederhana
mendalam
sebalik tabir bersahaja.

seimbas zahir matamu
bisa menipu,
tak tampak istimewa
melelah jemu.
sedang bukan itu
hakikatnya, sahabatku!

tak terpandang
semua ini, jika
sedari awal
kanta hati
cemar dengan cela
dan prasangka keruh.
tidak jernih dan tulus,
tidak bening dan mulus.

apatah lagi, jika
layar itu
tidak polos,
kusam kotor
cabik rabik,
belum berganti.

jernihkan kanta ini
hingga puas
pandang hati.
pohon jua
diganti-Nya,
kurnia layar baharu.

ingini cahaya-Nya
menyebar saksama
fitri mengalir resap
merata layar jiwa.

sejalur cahaya putih,
terpencar rona berkilauan
sukma senyum melirih
tatap pandangmu tertawan.


al-faqir firus fansuri
Selasa,
14 Rabi'ul Thani 1431 Hijriyyah
300310
1626

Mei 27, 2010

Bebutir Pesisir





Butir-butir pasir,
di pesisir
tampak tiada apanya
nun jauh di dasar samudera,
alangkah ajaib
dikandung cangkerang
menjadi mutiara.


Kerdil tak kasat mata
pada mula
diam-diam
jadi luar biasa
anugerah-Nya.

al-faqir firus fansuri
11 0510
2317


April 29, 2010

Jalan mudah untuk mencintai Mu







BIRU LAZUARDI
(kepada dirimu yang satu-satunya sudi menyapaku)

Bila kupandang
biru lazuardi
dada langit
tergambar lapang,
tenang hatimu

menyapa mesra
sunyi nurani ini

serba salahku
ingin menyahut sapaan
atau sekadar membiarkan?

Hatiku jadi tak tentu,
lalu kuputus tuk mengutus
khabar ingatan.

Serasa jawapanmu,
kemudiannya

buatku terpana
pesona liris katamu
meneduh jiwa.

Mungkinkah dikau insan
kunanti
selama ini?

Biru lazuardi
dada langit
adalah gambaran
tenang jiwaku
kini, setelah kau pinjamkan
hatimu.

Ibnu Abas
07/05/07
1520
Masjid an-Nur


~~~~




HEMBUSAN~

Lemah lembut mu
adalah
hembusan angin lalu,

semudah sapamu yang sopan
ia menjemput awan mendung
pergi,

telah lama ia menyelubungi
jiwa ini
yang membumi.

maka,
lebih tercerahlah
tanah
yang ternanti-nanti
sinaran-Nya.

lebih terlihat
biru langit

tenang.

terima kasih,
duhai angin semilir

rinduku pada
hembusan itu
lagi.

moga terkirimi ia
dengan izin Nya,
lantas
bumi ini senantiasa
dambai
pencerahan sinar Nya

Ibnu Abas
12/05/07
1524


~~~~




JALAN MUDAH UNTUK MENCINTAI~MU


Takkan pernah cukup syukurku pada~Mu,
Dikurniakan secebis dari sifat al-Wadud~Mu,
untuk mencintainya..

Jalan sukar untuk mencintainya,
membuka jalan mudah untuk mencintai~Mu..

Sebenar-benar karunia~Mu,
dalam seberat-berat ujian.

Ya Rabbul 'Izzaty, permudahkanlah bagi kami,
sepanjang jalan Cinta ini..


Ibnu Abas
31/03/08
1938




Creative Commons License


Disember 14, 2009

Rangkaian Ruba'iyat



Rangkaian Ruba'iyat


oleh



Di terbitkan oleh:
Dewan Bahasa dan Pustaka
Kementerian Pelajaran Persekutuan Tanah Melayu
Kuala Lumpur
1959

____________________________________________________________________



Kepada Para Penyair:
Bangunlah! kalam, kau kuda Pahlawan
Galakkan debu ’tempuran seni Bahasa;
Tempikkan suaramu dilapangan Puisi—
Dan petik lagammu dari taman Fantasi


____________________________________________________________________



I
Ada hakikat difahami dengan samadi,
Ada Hakikat pada akal tak ’kan mengabdi;
Samudera suram dan luas tak tampak dasarnya—
Tapi mudah mata menembus air dikendi.



II
Perkataan dan perbuatan jalanan zahir,
Jalanan batin melintasi langit mendesir;
Jasad menempuh jalanannya yang penuh debu—
Ruh berjalan, seperti ‘ Isa, diatas air.



III
Hai Ruh!—dari dangkal debu ’pabila merdeka,
S’umpama sukma bebas kau lelangit menghala;
Singgasanamu diangkasa bersama Dewa,
Tak malu kau—lama dalam lempung terpenjara!



IV
Sungguh ajaib!—wajah chantik tiada bandingnya,
Didalam kalbu chermin ini merajalela;
Anehnya bukan wajah itu—anehnya ialah
Kerna chermin ini pun sekaligus wajahnya.



V
Semua chermin dalam alam ini kusangka,
Membayangkan kechantikanmu laksana surya,
Tidak! dalamnya semua meliput sinarmu—
Kulihat kau sendiri, bukan bayangmu, nyata.



VI
Apa untungnya pipi merah laksana bunga—
Rupa jelita, rambut memahkotakan muka?
’Pabila kechantikan murni meliput alam,
Guna apa kau memeluk kechantikan fana?



VII
Minumlah banyak-banyak anggur asmara dunia,
’Gar dapat bibirmu nan lebih suchi merasa;
Tapi ingat! janganlah dunia ’mabukkan ruhmu—
Lintasi jambatan ini, dengan chepat, mara.



VIII
Churahkan pada bibirku anggur purbakala—
Berilah! agar dapat alam baru kuchipta,
Lupakanlah bagiku dunia yang mengabaikan,
Agar dapat kunyanyikan pujian ’tuk kau saja.



IX
Si prajurit menchari shahid di Jihad, runtuh,
Si ashik dilapangan Ishik tewas terbunuh;
Tetapi derajat shahidnya terlebih tinggi :
Dia ditikam kawan, bukan dileburkan musuh.



X
Dalam segala nyanyianku kaulah kupuja,
Dalam segala chiptaanku kaulah terchipta,
Tetapi m’reka hanya tersenyum mendengarnya, dan,
Melihat sekali, lalu menggeleng kepala.



XI
Walau pun ‘Izrail mengakhiri pujianku,
Tetap bergelora api cinta dalam kalbu;
Choba bongkar nanti tempat debuku terkubur-
Pasti kapan berasap, terbakar api rindu!



XII
Ah! berderita hatiku ’ndak berkata-kata,
Chintaku tak berbatas, hasrat menyala-nyala,
Tapi bisu mulut yang telah merasa chinta—
Sia-sia hati berkobar ’ndak menchari suara!



XIII
S’gala rupa dalam keadaan menjelma,
Hanya ada sesaat, lalu lenyap binasa;
Demikianlah artinya kalimat mendalam:
Bentuknya berubah-ubah pada tiap masa.



XIV
Masa bukanlah seumpama air mengalir,
Tapi s’umpama titik khayal ’nantiasa mungkir;
Yang Lampau, yang Hadir, dan yang Kemudian kelak
Semuanya didalam sesaat abadi Hadir.



XV
Dari setitik seribu lingkaran menjelma,
Dari angka satu berasal semua angka,
Inilah asasnya keadaan Makhluk jelata :
Dari alam yang ghaib timbul alam yang nyata.



XVI
Aku telah ada pada masa s’gala Nama
Dan keadaanku yang berNama belum terchipta,
OlehKu Nama dan yang berNama dinyatakan
Pada masa sebelum Aku dan Kita.



XVII
Tanyaku : 'Siapakah empunya kechantikanmu?'
Jawabnya : 'Segala nan wujud kepunyaanku!
Ashik, Ma ’shuk, dan Ishik ialah kesatuanku;
Juita, chermin, dan mata yang melihat pun aku.'



XVIII
Terlontar dilautan yang jauh pantainya, sesat,
Rakit Insan diumbang-ambingkan taufan Kodrat,
Tapi Kadar merampas kemudi, dan menetap,
Mengikuti peta yang kalam telah menchatat.



XIX
Terimalah, hai Tuhanku, hambaMu derhaka,
Ruhku suram—biarlah chahyaMu jadi pelita,
Kalau shurga hanya upah ’tuk amal baikku—
Kemana kemurahanMu—dan rahmatMu mana?



XX
WujudNya ghaib dalam nadi Makhluk jelata,
S’umpama raksa mengalir menyangkal upaya,
Membina s’gala bentuk dari 'alif' hingga 'nya'—
Tapi semua ’ubah binasa, melainkan Dia.



XXI
Waktu remaja, selalu kusinggah mendengar
Alim Ulama sebok berdebat dan bertengkar,
Tentang Ini dan Itu—tapi selalu saja—
Dari pintu kumasuk juga aku keluar.



XXII
Kepada langit berlipat-ganda kuberseru,
Menanya : '’Ngan pelita apa Kodrat memandu
Anak-anaknya yang sesat dalam kegelapan?'
Maka Langit menjawab : '’Ngan fahaman yang buntu!'



XXIII
Kenapa tiada taufan mengamuk dilautanmu?
Jiwamu terbelenggu—kemanakah imanmu?
Sia-sia kau melaung menuduh tindasan Takdir—
Kenapa tidak kau menjadi Kodrat Tuhanmu?



XXIV
Hai Pengembara!—marilah berlena di Lembah
Aman abadi, dimana s’gala serba indah
Hingga melati yang kau petik dan chium, akan
Berbisik padamu : 'Aku ini chermin Allah!'



XXV
Iram memang telah lenyap ’ngan s’gala mawarnya,
Piala Jamshid bergelang tujuh entah kemana;
Tapi anggur masih ’ngalirkan mirahnya purba,
Ditepi air masih semerbak taman bunga.



XXVI
Kalau hatimu tak tertipu oleh yang khayal,
Jangan kau takabur kerna kecherdasan akal;
Matamu terbebas dari kekhilafan itu
Oleh kerna haus ditekakmu tidak kekal.


____________________________________________________________________


Disember 12, 2009

Hayat Indah






Di sisi tiang berukir atas renda sejadah
kudus tulus doa fakir yang amat gundah.
Khusyuknya utama mengharap restu abadi
surah-surah suci demi hidup dan mati.


Meluncur unggas menara tergetar rumput taman,
bayu berlagu syahdu di kalbu yang rindu;
bagitu buana berdetak dalam hikmah masa,
begitu ghairah hasrat seganjil rahsia senja.


Yang dikenal wajah dan disangsi maruah;
disapa cakerawala, yang diuji manusia.
Demi hari demi sepi hati inti diri
dan demi malam salam menghiasi alam.


Bilal dan bibir, jemaah dan fakir,
tamsil kasih dalam kemelut getir.
Awal teka-teki di tangan yang alpa
kini rendang mengharumi darma ibadah.


Dari hening azan nafas meranum iman;
meresap rindu ke puncak reda Tuhan -
pesan tak bersuara di hati telah terkata
jiwa seindah rimba anugerah Maha Kuasa.


Rehal dan Quran, serindit dan nisan
damai dalam firman Allah Yang Esa,
terpercik kirai cahaya meluhuri dada
dan sabda Muhammad mengindahi hayat kita.



27-30 Disember 1996


*Kehidupan Islami itu amat mensyahdukan,
apalagi anugerah untuk hidup itu sendiri sudah sesuatu yang indah,
betapa pun geloranya.


November 26, 2009

Entah Berapa Puluh Ribu Kali





Tuhan,
beri kami cahaya
terik panas pun tak mengapa
sudah kami rasai kematian
mahu bangkit semula jadi kehidupan
kami sudah belajar
pada silih ganti musim yang Kau
limpah dan kurniakan


Pada saat ini
kehidupan hijau begini
akan ada bekalan harus kami tuai
di hujung musim - sesudah lelah menyemai
sebelumnya - saat akan tiba kami
mati semula - dan oleh cahaya Mu
kami bangkit hidup kembali
berkali-kali; entah berapa puluh
ribu kali.



Faisal Tehrani


***

nota kaki: Salam Aidiladha, buat semua.
Kata seorang teman, "Berjuang ertinya berkorban,
berkorban ertinya terkorban..
itulah asam garam perjuangan."