Banyak
orang selalu menanyakan mengapa aku suka jalan – jalan, apakah aku tidak lelah.
Bukan jalan – jalan yang aku sukai tapi melakukan perjalanan. Dalam perjalanan,
aku merasa ditempa sebagai manusia. Melatihku dalam mengenal banyak orang,
berempati, berbagi, dan merasakan, tapi yang paling penting adalah mengenal
diri sendiri. Selalu bertumbuh.
Tampilkan postingan dengan label MIMPI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MIMPI. Tampilkan semua postingan
30/05/15
29/11/14
Selamat Datang di Indonesia Si Kucing Ajaib, Doraemon!!!!
100
Hari. 100 Doraemon
Pameran 100 Doraemon Secret Gadget Expo yang sebelumnya menyambangi Hong Kong, Taiwan, Tiongkok dan Johor Bahru, akhirnya tiba di Indonesia. Oleh Animation International, perusahaan Jepang pemegang lisensi Doraemon, diharapkan pameran ini memuaskan keinginan pecinta Doraemon di Indonesia.
10/08/14
Pikkunikku Dreamy Japan Trip

Max 15 Pax (7 Sold, 8 Available)
Detail itinerary, harga dan cara pembayaran bisa diunduh di link ini
http://bit.ly/1nHGPJq
Domo Arigatou
16/03/14
Bermain Siasat Dengan Transportasi di Tokyo
Jepang merupakan
salah satu negara dengan sistem transportasi yang paling kompleks di dunia tapi
sangat bisa diandalkan. Nyaris tidak sedetikpun meleset dari jadwal yang sudah
ditentukan. Terlebih ibukota Jepang, Tokyo. Ketika menyambangi kota ini, aku
sering terkagum – kagum dengan ketepatannya, orang – orang yang antri dengan
sangat tertib dan tidak saling berebut. Setiap
harinya jaringan kereta/subway di Kota Megapolitan ini melayani
8.66 juta orang, dan khusus untuk stasiun Shinjuku telah memecahkan
rekor dunia
pada tahun 2007 dengan jumlah penumpang 3,26 juta orang dalam satu hari.
Di
jalan biasa, lalu lintas tidak begitu ramai tapi ketika mulai masuk
stasiun
tersibuk di dunia ini, aku merasa masuk ke dunia yang sama – sekali
berbeda,
apalagi ketika jam sibuk. Ratusan ribu manusia lalu lalang ke segala
arah. Walaupun sudah paham dengan tujuanku dan jalur yang dituju, namun
tetap saja
akhirnya tersesat dan berbekal wajah sedih, seorang perempuan berbaik
hati mengantarkan
ke bagian informasi. Shinjuku memang terlalu tangguh untuk ditaklukkan.
Satu hal
yang selalu jadi momok para backpacker untuk menjelajah kota ini, yaitu biaya
transportasi yang sangat tinggi minimal 160 yen untuk jarak terpendek. Berbeda
dengan Singapura yang luas totalnya “hanya” 710 KM2 yang masih
mungkin dijelajahi dengan jalan kaki, tapi Tokyo dan sekitarnya yang biasa
disebut “Greater Tokyo” mencapai 2.188 KM2, tiga kali lipat luasnya,
dan aku rasa agak terlalu susah untuk menghemat dengan cara jalan kaki. Cara
satu – satunya adalah memilih tiket transportasi yang paling pas dengan
kebutuhan dan rencana perjalanan.
Di pusat Tokyo sendiri terdiri dari 1 jalur JR Line (Yamanote Line), 4 jalur subway TOEI (Asakusa, Mita, shinjuku, Oedo line) dan 9 jalur subway Tokyo Metro (Ginza, Marunouchi, Hibiya, Tozai, Chiyoda, Yurakucho, Hanzomon, Namboku, Fukutoshin line).
Di pusat Tokyo sendiri terdiri dari 1 jalur JR Line (Yamanote Line), 4 jalur subway TOEI (Asakusa, Mita, shinjuku, Oedo line) dan 9 jalur subway Tokyo Metro (Ginza, Marunouchi, Hibiya, Tozai, Chiyoda, Yurakucho, Hanzomon, Namboku, Fukutoshin line).
Salah satu
situs yang paling membantu dalam hitungan biaya dan waktu pada transportasi di
Tokyo, dan hampir semua kota di Jepang adalah HYPERDIA (www.hyperdia.com). Di situs ini kita bisa
melihat berapa biaya dari satu titik ke titik lain, berapa waktu tempuh yang
diperlukan, berapa jumlah transit, dan apa saja alternatifnya.
| hyperdia.com |
Setelah rencana perjalanan dan
perkiraan biaya transportasi sudah pasti, maka langkah selanjutnya adalah
memilih tiket yang paling sesuai dengan kebutuhan. Aku akan mencoba menulis
jenisnya dan kelebihan (warna biru) serta kekurangannya (warna merah) menurut pengalamanku.
Berdasarkan pengalaman, aku lebih menyarankan untuk menggunakan SUICA atau PASMO karena alasan lebih praktis, dan kadang kalau dihitung - hitung bisa jauh lebih murah dari pada one day pass. Tapi sekali lagi sesuaikan dengan rencana perjalanan, kalau diperkirakan dalam satu hari sangat banyak menggunakan subway, Tokyo Free Kippu bisa jadi pilihan yang tepat. Tapi jika sangat ingin berhemat dan mampu berjalan cukup jauh maka Tokyo Metro Open Ticket untuk 2 hari paling cocok. Catatan untuk tiket jenis ini adalah untuk mendapatkan harga 600 yen (versi turis), tiket hanya tersedia di bandara Narita dan Haneda.
Semua tiket ini bisa dibeli di mesin penjualan dan loket penjualan tiket yang ada di Stasiun, dan selalu untuk minta peta subway yang biasanya tersedia gratis di loket.
cara pembeliannya dan penggunaan agak susah dijelaskan tapi ada beberapa video di youtube yang cukup jelas:
Single Ticket : http://www.youtube.com/watch?v=0ZbgUqPnQwg
SUICA : http://www.youtube.com/watch?v=fw5Xj2MLiZ0
Tokyo Metro Open Ticket : http://www.youtube.com/watch?v=WAmCMq-8dJM
| Suica card |
| Tokyo Metro One Day Pass |
Semoga berguna, dan baca tulisanku yang lain tentang Jepang... ^_^
Rincian Biaya 12 Hari Pertualanganku Di Jepang
Tokyo Dulu Dan Kini Melebur Di Asakusa
Cantiknya si Merah Jambu Ueno-Koen
Bawa Aku Kemana Saja, Doraemon
Klik. Dan Tokyo Tower pun Padam.
07/02/14
Mengecap Lezatnya Pesona Tsukiji
Tak banyak orang tahu bahwa sejak
tahun 675 M Kaisar Temmu melarang masyarakat Jepang memakan hasil
ternak, anjing, kera dan ayam. Dan dilanjutkan dengan kebijakan yang dipengaruhi ajaran Budha dan Shinto untuk tidak
membunuh hewan pada abad delapan dan sembilan. Pada saat itu, selain ikan dan
paus, yang dianggap hewan laut, memakan semua daging hewan mamalia adalah hal
yang tabu. Oleh karena itu, walaupun sekarang sudah tidak ada lagi aturan itu, kecenderungan makan ikan sudah mendarah daging.
Dan bagaimana mereka mengolahnya pun cukup unik. Berbeda dengan kebanyakan negara lain, salah satu philosofi kuliner negara asal acara Iron Chef ini adalah semakin sedikit proses memasak yang dilalui satu
bahan makanan, maka citarasa alaminya akan semakin terasa. Bahkan di negara ini
ada peribahasa “Makan mentah terlebih dahulu, kemudian bakar dan rebus sebagai
pilihan terakhir.”
Sushi dan Sashimi. Setiap mendengar nama makanan ini, orang pasti langsung mengasosiasikannya dengan kuliner khas Jepang.
Sushi dan Sashimi. Setiap mendengar nama makanan ini, orang pasti langsung mengasosiasikannya dengan kuliner khas Jepang.
Maka tak mengherankan apabila di Tokyo terdapat Tsukiji Fish Market yang dibuka sejak 1935 sebagai pasar ikan terbesar di dunia
ini dan mampu menarik pengunjung dari seluruh dunia. Termasuk aku.
Setelah gagal pada hari ke 3 di Tokyo, Aku, Sita dan Bang
Eko baru dapat menyambangi Tsukiji Market pada hari Senin (25 Maret 2013).
Karena saat itu aku kurang mencari referensi sebelumnya, maka kami tidak tahu
kalau setiap hari Rabu, Minggu, dan hari libur, tempat ini tutup.
Seorang polisi yang ramah segera
menyambut kami di dekat pintu masuk utama dan membagikan selebaran berukuran
kertas A3 yang berisi informasi penting mengenai pasar ini termasuk denah dan
aturan dalam 5 bahasa. Jepang, Inggris, Mandarin, Korea dan Rusia. Kemudian dia
menunjukkan papan kartun yang mengilustrasikan aturan – aturan untuk
pengunjung. Seperti manga. Unik sekali. Yang pertama, jangan menghalangi pekerja yang sedang
beraktifitas karena Tsukiji bukanlah tempat wisata, jadi kita tidak bisa
berlaku semaunya. Kedua, sebelum jam 09.00, kita tidak boleh masuk ke tempat
penjualan ikan dan hanya boleh berkeliaran di pasar luarnya (Uogashi Yokocho).
Ketiga, tidak boleh ada grup yang besar, apalagi ada pemandunya. Di papan
tergambar seorang pekerja yang tidak bisa lewat hanya karena sekelompok orang
membuat barisan panjang mengikuti si guide. Aturan tidak boleh membawa kereta
bayi adalah yang ke empat.
Gambar ke lima memperlihatkan
akibat apabila memakai sandal sambil berkeliling pasar. Kemalangan pasti
menghampiri. Terpeleset, menginjak paku, terlindas gerobak atau tak sengaja
tersandung. Bahaya. Oh iya. Orang mabuk tidak boleh masuk pasar ini. Tapi aku
masih sangsi, yang ini bisa ditegakkan. Bagaimana bisa menyuruh orang teler
menaati aturan ini. Nah untuk yang terakhir, sangat tidak disarankan untuk
memegang ikan dan alat - alat yang ada di sana, terutama pisau.
![]() |
| Selebaran |
![]() |
| Papan Aturan |
Setelah memahami dan meresapi gambar – gambar itu, berhubung sudah lewat pukul 09.00 lebih kami memulai perjalanan menuju tempat penjualan ikan yang sudah dibuka untuk umum. Selangkah demi selangkah melewati jalan khusus yang diperuntukkan pengunjung.
Mataku terbelalak takjub.
Walaupun banyak kios yang sudah tutup dan mulai dibersihkan oleh para penjual
tapi masih ada beberapa yang buka. Tapi karena pasar ini luas, “beberapa” itu
artinya juga masih banyak. Tak habis dihitung jari tangan 5 orang sekaligus.
Sesama pejalan, aku juga sadar
pasti ada rasa keingintahuan yang sangat kuat ketika melihat sesuatu yang
menarik. Ingin melihat, memotret bahkan memegang. Tapi kita juga harus sadar
bahwa orang – orang yang berkerja di sini menjalankan aktifitas sehari-hari dan
berharap tanpa ada gangguan. Kita tidak suka juga kan ketika sedang bekerja
tiba – tiba ada turis datang, tanpa ba bi bu langsung mengambil foto kita.
Berkunjung ke tempat semacam ini, rasa hormat harus selalu diutamakan.
Dengan hati – hati dan terkadang
meminta izin yang empunya kios, aku mengamati beberapa hasil laut yang mungkin
baru pertama kali ku lihat sepanjang lebih dari seperempat abad hidupku ini. Ada
kerang dan udang yang bermacam – macam bentuknya. Bahkan ada sesuatu yang
awalnya ku pikir adalah “itunya” ikan paus karena bentuknya yang panjang. Aku
geli melihatnya. Tapi setelah kuselidiki ternyata itu adalah kerang gajah. Tambah
penasaran tentang bagaimana cara masaknya. Imajinasiku berkelana entah kemana.
Jangan tanya lagi, ikan apa yang
aku jumpai di sini. Banyak macamnya dan aku tidak tahu namanya satu persatu.
Pengetahuanku tentang biota laut saat itu terutama nama ikan terbatas pada ikan
badut (gara-gara Finding Nemo), ikan duyung (gara – gara Little Mermaid), dan lumba
– lumba (gara – gara Bondan Prakoso). Titik.
Tapi ikan yang menjadi bintang di
pasar ini adalah Tuna. Tuna yang ditangkap dari seluruh dunia dikirim untuk
dilelang di sini. Walaupun hewan laut satu ini jumlahnya sudah dalam taraf
membahayakan, para nelayan masih memancing ikan yang satu ini karena tergiur
dengan harga jualnya yang sangat tinggi. Bisa mencapai Rp. 700.000 per kilo. Padahal
berat rata – rata ikan ini 200 kg. Berarti Rp. 140.000.000. Fyuh. Pelelangan
tuna yang diadakan setiap hari setiap pukul 05.25 dan 5.50 adalah kegiatan yang paling disukai para turis. Apabila
berminat, para pengunjung diharapkan mendaftar di Osakana Fukyu Center (Pusat
Informasi Ikan) di Kachidoki Gate mulai jam 05.00 dan karena keterbatasan
ruang dan demi kenyamanan semua pihak, maka jumlahnya dibatasi hanya 120 orang.
Sayang sekali karena kendala transportasi, aku tidak dapat melihatnya. Kereta
paling pagi adanya jam 05.00, dan dibutuhkan
paling tidak 20 menit dari Asakusa ke Tsukiji. Padahal aku penasaran atas nasib
tuna gendut yang ditangkap nelayan di perairan Gloucester,
Massachusetts pada acara TV Wicked Tuna di National Geographic yang kemungkinan besar dilelang di
sini. Setelah pelelangan ini selesai, ikan – ikan raksasa
tersebut dipotong menggunakan alat pemotong khusus yang aku lihat mirip dengan
mesin pemotong kayu. Kemudian dikirimkan ke pembeli di Jepang maupun di luar
negeri.![]() |
| Uogashi Yokocho |
Aku bukan seseorang yang bisa makan apa saja, tapi ketika
di jalan – jalan di satu kota yang
memiliki makanan khas, kadang harus memberanikan diri untuk mencobanya. Kali ini
Sushi. Sungguh ini adalah pengalaman pertamaku makan sushi. Ketika di
Indonesia, setiap ada temanku yang mengajak ke restoran Jepang, pasti aku tolak
baik – baik. Otakku selalu berfikir kalau makanan
mentah tidak berteman baik dengan lidahku. Tapi restoran sushi di area Tsukiji ini berhasil menarikku masuk. Kupikir di sinilah aku akan merasakan
sushi dengan ikan paling segar di dunia. Bagaimana
tidak, ikannya langsung dari pasar yang jaraknya hanya sejengkal. Semua restoran penuh dan di luarnya puluhan orang mengantri di bawah
rintikan hujan. Di depan restoran terpampang menu dan harganya yang membuat
ciut kantong. Satu paket Sushi rata – rata dibandrol 1400 yen. Mahal. Setelah 1 jam mengantri, kami berhasil masuk ke salah satu restoran yang paling murah. 1150 yen ‘saja’. Aku memilih duduk persis di bar untuk menyaksikan langsung proses pembuatannya. Karena terkenal di kalangan turis, menunya terdapat arti bahasa Inggrisnya. Awalnya kita mau hanya beli satu paket dan bagi bertiga. Tapi ternyata kita bisa memesannya ala carte alias satuan. Karena masih tak sanggup makan makanan mentah, aku pilih yang serba matang. Hanya dengan 430 yen, sushi dengan topping telur, udang dan kulit ikan yang dibakar tersaji indah. Lezat.
Omong – omong keliling pasar ini
sedari tadi terlihat para pekerja mondar – mandir menggunakan kendaraan unik. Bentuknya
seperti papan beroda 3 dan di bagian depannya terdapat baterai sebesar drum
minyak tanah yang di bagian atasnya terdapat kemudi. Ini merupakan salah satu
wujud penghematan energi yang diterapkan di pasar ini. Tapi sayangnya di sudut
lain, terutama di dekat pasar luar terdapat bergunung – gunung styrofoam.
Semoga saja pengelola mampu mengatasi masalah lingkungan yang disebabkan bahan yang
terkenal susah di daur ulang ini. Bukan tidak mungkin tapi sangat sulit. Oleh
karena tingkat pencemaran lingkungan akibat kegiatan di pasar ini cukup tinggi,
pemerintah Jepang akan memindahkannya ke Toyosu pada musim semi 2016. Alasan
lain pemindahannya juga karena pasar yang sekarang ini menempati lokasi yang
bernilai tinggi yang dekat dengan pusat kota. ![]() |
| Gundukan Styrofoam |
Rincian Biaya 12 Hari Pertualanganku Di Jepang
Tokyo Dulu Dan Kini Melebur Di Asakusa
Cantiknya si Merah Jambu Ueno-Koen
Bawa Aku Kemana Saja, Doraemon
Klik. Dan Tokyo Tower pun Padam.
Bermain Siasat Dengan Transportasi di Tokyo
15/01/14
Bawa Aku Kemana Saja, Doraemon!
Bagi seseorang yang masa kecilnya di
tahun 90an sepertiku, robot kucing berwarna biru putih yang mempunyai semua alat canggih di kantong ajaib untuk memecahkan semua masalah yang dimiliki Nobita adalah idaman terbesarku. Jam 8 tepat
setiap hari Minggu, Doraemon, membuatku terus terpaku selama setengah jam.
Mulut menganga, semangat membuncah. Segalanya itu mungkin, walaupun sepertinya
mustahil tapi itu mungkin. Itulah esensi dari sebuah mimpi. Sesuatu yang
terlihat tidak teraih, tapi dengan kerja keras pasti akan tercapai.
Walaupun sekarang aku bertambah usia
dan tidak bisa dibilang muda lagi, tapi setiap aku melihat Doraemon, aku merasa
menjadi anak kecil lagi dengan imajinasi dan impian yang menjulang tinggi. Dia
menemaniku meniti jalan menuju mimpiku, maka ketika terwujud, menjadi suatu
yang wajib kurasa untuk mengunjungi tempat kelahirannya. Museum Fujico F.
Fujio.
Doraemon sendiri adalah karakter
manga yang diciptakan oleh Fujico F. Fujio pada tahun 1973. Museum yang
terletak di 2 Chome 8-1 Nagao Tama-ku, Kawasaki City, Perfektur Kanagawa
214-0023 ini dibangun atas inisiatif sang istri. Beliau ingin
mempersembahkannya untuk anak-anak di dunia yang selama ini selalu mendukung
karya suaminya. Berhubung karyanya yang sangat terkenal adalah Doraemon, museum
ini lebih sering dikenal dengan Museum Doraemon.
Sebenarnya harga tiket masuknya tidak
terlalu mahal, hanya 1000 yen untuk dewasa dan 500 yen untuk anak-anak, namun
kita tidak bisa langsung membelinya di sini. Pemesanan tiket museum ini harus
dilakukan lewat Lawson, salah satu jaringan mini market terbesar di negara matahari terbit. Hampir di
semua sudut kota besar di Jepang, Lawson gagah berdiri.
Karena takut kehabisan tiket,
setibanya di Tokyo, aku langsung menuju salah satu cabangnya di Asakusa. Museum
yang baru dibuka pada 3 September 2011 ini sangat banyak pengunjungnya, dan
untuk hari Sabtu Minggu biasanya tiket terjual habis.
Sebenarnya agak menjadi tantangan
tersendiri untuk membelinya. Karena pembeliannya menggunakan Loppi, semacam mesin penjualan tiket yang sayangnya hanya menggunakan bahasa Jepang, aku harus minta bantuan penjaga
toko. Namun, sayangnya dia, seperti mesin itu, monolingual. Dan saat-saat
inilah, kemampuan bahasa Tarzanku diuji.
"We want to buy ticket for
Doraemon Museum"
"Ehm? Doraemon", entah
kenapa wajahnya cukup bingung.
"Fujico F. Fujio desu.",
sautku
"Oh, hai"
Dia langsung membawaku ke depan mesin
pembelian tiket.
| Tiket Museum |
Setengah jam lebih berkutat di depan
loppi, percakapan yang didominasi kata "Hai", "Ok",
"No", "Sorry", gerakan manggut-manggut dan geleng-geleng,
akhirnya membuahkan hasil. 3 tiket untuk aku, Sita dan Bang Eko untuk tanggal 25 Maret 2013 pukul 16.00 sudah
aman digenggaman. Perlu diketahui untuk kenyamanan pengunjung, dalam satu hari
dibagi 4 gelombang, yaitu 10.00; 12.00; 14.00;
16.00 dan diharapkan datang paling lambat setengah jam sebelum jam yang tertera
di tiket.
| Sopir bus yang ceria |
30 menit sebelum pintu dibuka,
pengunjung sudah mengular panjang. Kalau diperhatikan sangat jarang orang
dewasa yang datang, kecuali menemani anaknya. Dari satu antrian ini, aku merasa
kami bertiga terlihat begitu menonjol. Akhirnya, setelah menunggu beberapa
lama, kami masuk museum impian ini.
Lagi-lagi demi kenyamanan, setiap
pengunjung dibekali Pemandu Audio dan earphone. Ada 2 bahasa tersedia, Inggris
dan Jepang. Kalau berharap versi ada bahasa Indonesia, siap-siap lah kecewa.
Tour Museum ini dimulai dengan sebuah ruangan yang berisi karya-karya Fujico F.
Fujio. Lembar - lembar karyanya dipajang di kotak kaca yang dinomori. Untuk
informasi tentang karya tersebut, kita harus menekan tombol angka di Pemandu
Audio sesuai nomor yang tertera. Sayangnya ada beberapa karya yang tidak ada
informasinya. Walaupun sebagian besar adalah tentang Doraemon, namun karya yang
lain seperti Perman, Mojacko, Ume Boshi Denka dan Esper Mami juga ada.
Masih di lantai yang sama, setelah
ruang itu terdapat lorong yang membawa kita masuk ke kehidupan sang mangaka yang bernama asli Fujimoto Hiroshi ini. Di
sebelah kiri terdapat kamera yang biasa digunakan oleh Fujico F. Fujio dan di
sebelah kanan terdapat replika ruang kerjanya yang dibuat sama persis aslinya.
Terharu. Di sinilah dia melahirkan karya yang menginspirasi ribuan bahkan
jutaan anak-anak yang mengidamkan Doraemon. Sebuah karya yang ku yakin tak akan
lekang dimakan waktu.
Setelah lorong itu, sampailah kami ke
area hiburan yang meliputi permainan-permainan bertemakan Doraemon dan
teman-temannya. Walaupun ingin sekali mencobanya, aku tidak berminat bersaing
dengan anak-anak TK yang terlihat antusias memainkannya. Aku pilih manga reading room saja.
Setelah berlagak baca manga Doraemon, yang sedikit aku tak mengerti karena dalam
bahasa Jepang, hanya demi sebuah keeksisan dalam foto, aku beranjak ke theater.
Di sini kita bisa menyaksikan film yang hanya dapat dilihat di museum ini.
Setelah petugas mengatur agar anak-anak duduk paling depan, film dimulai. Jujur
saja, karena tidak ada terjemahannya aku kurang paham dengan filmnya. Bahkan
sampai detik ini, aku tidak ingat jalan ceritanya.
Ketika saatnya makan tiba, kami
beranjak ke lantai 3 di mana kafe berada. Tapi apalah daya, karena sudah
terlalu sore kafe sudah tutup dan kami diarahkan untuk makan di tempat makan di
sebelahnya yang lebih mirip dengan restoran cepat saji. Hanya saja menunya
bukan ayam goreng melainkan Dorayaki, makanan favorit Doraemon, dan Anki Pan,
roti untuk menghafal. Harganya memang tidak terlalu mahal namun sungguh tidak
mengenyangkan.
Walaupun begitu, kami masih
bersemangat berfoto-foto di taman di depan restoran ini. Dinosaurus, pintu
ajaib, dan beton bertumpuk tiga di taman rasanya seperti berada dalam dunia
Doraemon. Di sinilah pengunjung paling puas mengambil gambar karena di ruang
pamer tidak diperkenankan.
Dengan bus yang sama, aku mengucap
Sayounara dan membawa semangat Doraemon langsung dari kampung halamannya.
Catatan perjalananku lainnya tentang Jepang :
Rincian Biaya 12 Hari Pertualanganku Di Jepang
Tokyo Dulu Dan Kini Melebur Di Asakusa
Cantiknya si Merah Jambu Ueno-Koen
Klik. Dan Tokyo Tower pun Padam.
Bermain Siasat Dengan Transportasi di Tokyo
26/09/13
Ketika Cinta Menambah Rasa
Irrashaimase!!! Sapaan penuh semangat yang berarti selamat datang
ala Negeri Sakura langsung terdengar, begitu menginjakkan kaki di kedai okonomiyaki
ini.
03/07/13
Tokyo Dulu dan Kini Melebur di Asakusa
Dari Haneda menuju Asakusa di mana hostel kami, Asakusa Smile,
harus naik monorel dan dilanjutkan dengan naik kereta. Sekedar informasi bahwa
Tokyo memiliki system transportasi yang kompleks tapi sangat mudah dimengerti.
Terdapat JR (Japan Railways) milik pemerintah, Metro Subway, Toei Subway dan
Monorel milik swasta. Mungkin karena inilah, transportasi sangat mahal di Tokyo.
Bayangkan saja ¥190 untuk jarak terpendek. Tapi untuk menyiasatinya terdapat
banyak pilihan diskon misalnya Japan Rail Pass, One Day Subway Pass, Seishun 18
Kippu dan lain – lain. Untuk perjalanan bandara – Asakusa, aku memilih airport
pass (¥500) mencangkup monorel dan sekali jalan kereta JR.
Langganan:
Postingan (Atom)








